| |
Hmmm…. kemana ya di hari libur? Ancol? Ragunan? Taman Mini Indonesia Indah? Monas? Sebutkan tempat-tempat berwisata atau hanya sekadar untuk santai sejenak bagi keluarga di Jakarta yang terlintas di pikiran anda. Atau kemanakah anda dapat membawa tamu anda yang sedang berkunjung dari luar kota atau luar negeri?
Saya iseng membuka informasi mengenai Jakarta di situs Tripadvisor dan Agoda, yang menjadi acuan bagi para traveller dunia, entah yang hendak berbisnis atau berlibur.
TRIPADVISOR ” Chaotic, crowded, and cosmopolitan, Jakarta, the capital of Indonesia, is a city of contrasts. Home to millions of people from around the world, the city is a mixture of languages and cultures, poverty and wealth. The city boasts some of the best nightlife in Asia and some of the worst traffic. Every holiday, the locals escape the pollution and the crowds to enjoy relaxing diversions like Ancol Dreamland, an amusement area featuring water parks, beaches, golf courses, and a SeaWorld.”
Penjelasan di Agoda mungkin sedikit lebih baik, karena banyak juga memuji museum-museum di Jakarta, atau tempat ibadah berbagai agama yang indah. Tak lupa tentu kehidupan malamnya yang hingar bingar. Tapi tetap saja reviewnya diawali dengan kalimat ” One of the most densely populated cities in the world”
Jangankan bagi pelancong, bagi penduduknya sekalipun Jakarta bukanlah kota yang nyaman dan ramah. Semata-mata sekadar untuk meniti karir dan mencari uang. Kerasnya hidup di Jakarta, polusi, dan kemacetan yang parah, memicu stress dan berbagai permasalahan sosial lainnya. Tata kota dan pembangunan Jakarta pun terkesan semrawut. Anda bisa membangun apa saja, dimana saja, dan kapan saja. Seolah tak harus memenuhi Analisa Dampak lingkungan (Amdal) dan peraturan yang ada. Misalkan perusahaan jasa ekspedisi yang marak di sepanjang KS Tubun hingga Tanah Abang, Jakarta Pusat. Banyak dari perusahaan-perusahaan itu yang tidak memiliki area memadai untuk bongkar muat, hingga truk-truk ekspedisi dengan santai melakukan bongkar muat di tepi jalan. Imbasnya tentu saja kemacetan. Atau pernah kah anda memperhatikan ruko-ruko yang tidak memiliki lahan parkir? Lagi-lagi badan jalan jadi sasaran.
Belum lagi jumlah pusat perbelanjaan yang super fantastis di Jakarta. Saat ini ada 130 pusat perbelanjaan, dan hingga akhir 2012 tengah dipersiapkan lagi 13 pusat perbelanjaan baru.Pasokan mall di Jakarta bertambah 5,6 persen atau seluas 335.456 meter persegi.
Selain akan memicu kondisi kemacetan semakin kronis, tentu saja akan membuat ruang terbuka hijau (RTH) di Jakarta semakin tergerus. Saat ini prosentasi RTH di Jakarta hanya 9,8 persen saja dan terus menurun dari tahun ke tahun. Pihak pengembang tentu tak dapat disalahkan, karena secara hitungan bisnis masih dianggap menguntungkan, dan mereka mengantongi ijin pembangunan. Entah bagaimana pola pikir pemerintah dan pemprov DKI!
Sebagian besar fasum & fasos yang dibangun hanya bagi kalangan menengah ke atas. Saat ini lebih banyak fasilitas swasta atau yang harus merogoh kantong, ketimbang fasilitas gratis yang memadai bagi warga. Waterboom, futsal, dan olahraga lain harus merogoh kocek yang tak sedikit. Tak berlebihan jika dikatakan: Jakarta, untuk kencing saja bayar! Kondisi ini menimbulkan kesenjangan sosial yang semakin tajam, karena yang dapat menggunakan fasilitas tersebut hanyalah kalangan yang mampu membayar. Padahal fasilitas umum & sosial berfungsi sebagai tempat bersosialisasi sekaligus rekreasi masyarakat, yang merupakan modal awal terciptanya keharmonisan, tatanan, dan prilaku sosial yang baik.
Pengamat perkotaan, Andrinov Chaniago mengatakan tak heran jika tawuran antar warga semakin meningkat. Begitu pula berbagai penyakit sosial. Kepala Bidang Perencanaan Ruang Kota DKI, Izhar Chaidir, mengakui bahwa fasum & fasos bagi masyarakat tak sebanding dengan pembangunan mall. Padahal dalam UU nomor 26 Tahun 2007 tentang Tata Ruang disebut bahwa setiap propinsi idealnya memiliki RTH seluas 30 persen dari total wilayah produktif. Bandingkan dengan jumlah RTH Jakarta saat ini, itu pun masih harus disortir lagi berapa persen yang terawat. Jangankan lahan yang dimiliki langsung oleh pengembang, lahan negara pun disewakan untuk pembangunan pusat perbelanjaan atau apartemen. Salah satu contoh adalah lahan eks Taman Ria Senayan, yang nyaris saja kecolongan. Lahan seluas 111.600 meter tersebut disewakan kepada PT Ariobimo hingga tahun 2035 dibawah proyek bernama ‘Playground Taman Ria Senayan’. Awalnya pengelolaan dipegang oleh Yayasan Karya Bhakti Ria Pembangunan (YKBRP) berdasarkan surat Mensegneg No.1/K/BP-Senayan/1992 tertanggal 9 Maret 1992. YKBRP merupakan yayasan yang didirikan oleh Ny. Siti Hartinah Soeharto, Ny. Nelly Adam Malik, dan Ny. Soehartati Oemar Senoadji. YKBRP kemudian menyerahkan hak pengelolaan proyek playground Taman Ria Senayan kepada PT Ariobimo Laguna Perkasa pada 19 April 1995, dengan masa kontrak 20 tahun. Namun dua tahun kemudian yakni pada 5 Mei 1997, masa kontrak diperpanjang hingga 30 tahun.
Era reformasi tentu berimbas pada ‘kekuasaan’ di berbagai sektor. Termasuk pengelolaan Taman Ria Senayan. Tahun 2004, Setneg mencabut keputusan terdahulu terkait pengelolaan oleh YKBRP, sehingga perjanjian PT Ariobimo dilanjutkan oleh pihak Gelora Bung Karno hingga 2035.
PT Ariobimo harus memberikan kontribusi kepada negara yang diserahkan melalui Gelora Bung Karno. Pada tahun ke-2 sebesar Rp.500 juta. Tahun ke-3 sampai ke-7 sebesar Rp 950 juta per tahun. Tahun ke-8 sampai ke-12 sebesar Rp 1,2 milyar per tahun. Tahun ke-13 sampai tahun ke-17 sebesar Rp 1,5 milyar per tahun. Kemudian tahun ke-18 sampai ke-22 sebesar Rp 1,75 milyar per tahun.Untuk tahun ke-23 sampai ke-27 sebesar Rp.2 milyar per tahun.
Sedangkan Megawati yang menjabat sebagai presiden saat itu telah mengeluarkan Keppres No 94 Tahun 2004, bahwa lahan Taman Ria Senayan digolongkan sebagai National Heritage. Tapi nyatanya setelah akhirnya ditutup dan lama terbengkalai, Taman Ria Senayan hendak diubah menjadi mall & enterteinment centre. ‘Uang sewa’ yang telah disepakati tentu tidak lah seberapa dibanding keuntungan yang akan diraup.
Ribut-ribut pengalihan fungsi hingga uang sewa yang dibayarkan selama ini ternyata tak sesuai perjanjian, membuat semua pihak termasuk DPR ikut angkat bicara. Hasilnya pemda DKI urung memberikan ijin pembangunan. Bagaimana jika saat itu tidak ribut-ribut? Atau bagaimana jika nanti perhatian publik sudah beralih? Apakah Taman Ria Senayan akan kekeuh disulap jadi mall? Padahal jumlah mall dan enterteinment centre sudah melampui batas, dibandingkan jumlah penduduk. Apakah warga Jakarta harus menghabiskan waktu luangnya di mall?
Sementara 3,48% atau lebih dari 312.000 penduduk Jakarta masih hidup di bawah garis kemiskinan. Ini berdasarkan pendapatan mereka hanya sekitar Rp 317.000,- per bulan yang dipandang tidak mencukupi untuk biaya hidup di Jakarta. Apalagi jika menggunakan standar hidup yang layak, jumlah yang masuk kategori miskin tentu akan lebih besar lagi. sementara hingga 2011 sekitar 1 juta orang angkatan kerja di Jakarta belum mendapat pekerjaan. Tapi herannya, mall berjejer di sepanjang jalan seperti di jalan S.Parman, Kelapa Gading, dan Casablanka. Sepertinya penduduk Jakarta dipaksa untuk konsumtif. Mall-mall selalu penuh meski katanya masih banyak orang miskin di Jakarta, juga menunjukan kesenjangan sosial yang begitu besar.
Sedikit banyaknya, pola pendidikan di keluarga turut membentuk sifat konsumtif. Sejak usia dini saja sudah terbiasa dengan yang serba instan, serta permainan canggih. Mereka tentu lebih suka bermain di mall ketimbang di taman atau melihat pemandangan alam. Saling memamerkan gadget terbaru dengan teman sekolah, dan lagi-lagi hanya mengenal sosialisasi dengan jalan-jalan ke mall bersama teman sebaya. Anak-anak juga sudah belajar konsumtif dengan merk-merk ternama, demi gengsi di mata teman-temannya. Apatis dan konsumtif, itulah warga Jakarta masa kini dan tak kebayang bagaimana kondisinya di masa depan.
Fasilitas umum & sosial, memang tak menjanjikan keuntungan berlimpah, apalagi biaya perawatan yang tak sedikit. Tapi itu bagian dari kewajiban pemerintah kepada rakyatnya yang harus dipenuhi.
copyright Soraya
|
|